Sabtu, Mei 2, 2026
  • Home
  • Blog
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • DPMPD Kaltim
    • Dispora Kaltim
    • DPRD Kaltim
    • DPRD Kutim
    • DPRD Samarinda
    • DPRD Kota Balikpapan
    • Kabupaten Berau
    • Kabupaten Kutai Barat
    • Kabupaten Mahakam Ulu
    • Kominfo Kutai Timur
    • KPID Kaltim
    • Kominfo Kaltim
    • Kominfo Samarinda
    • Kota Balikpapan
    • Kota Bontang
    • Kota Samarinda
    • Kominfo Kutai Kertanegara
  • Opini & Publik
  • Redaksi
  • Legalitas
  • INFO PRODUK
  • Pedoman Media
No Result
View All Result
LensaBorneo.com
Advertisement
  • Home
  • Blog
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • DPMPD Kaltim
    • Dispora Kaltim
    • DPRD Kaltim
    • DPRD Kutim
    • DPRD Samarinda
    • DPRD Kota Balikpapan
    • Kabupaten Berau
    • Kabupaten Kutai Barat
    • Kabupaten Mahakam Ulu
    • Kominfo Kutai Timur
    • KPID Kaltim
    • Kominfo Kaltim
    • Kominfo Samarinda
    • Kota Balikpapan
    • Kota Bontang
    • Kota Samarinda
    • Kominfo Kutai Kertanegara
  • Opini & Publik
No Result
View All Result
Lensaborneo.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Blog
  • Nasional
  • Berita Daerah
  • Opini & Publik
Peringati Hari Buruh   PERNYATAAN SIKAP PEREMPUAN MAHARDHIKA SAMARINDA

Ket foto : Perempuan Mahardika saat aksi damai dalam Rangka Hari Buruh 1 Mei 2026

Peringati Hari Buruh  PERNYATAAN SIKAP PEREMPUAN MAHARDHIKA SAMARINDA

“Wujudkan Kerja Layak Untuk Perempuan Hentikan Kekerasan dan Militerisme di Dunia Kerja”

02/05/2026
in Advertorial

Samarinda,Lensaborneo.com– Hari ini, perempuan pekerja di Indonesia masih hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian, diskriminasi, dan kekerasan yang terus dipelihara oleh Rezim Prabowo-Gibran yang tidak berpihak pada rakyat, khususnya perempuan kelas pekerja. Di tengah tingginya angka pengangguran, maraknya pemutusan hubungan kerja, dan menyempitnya lapangan kerja formal yang aman, perempuan dipaksa menerima pekerjaan apapun dalam kondisi upah murah, kontrak tidak pasti, tanpa jaminan sosial, dan rentan mengalami kekerasan.

Situasi ini menunjukkan bahwa negara gagal menghadirkan kerja layak sebagai hak dasar warga negara. Janji politik pemerintahan Prabowo Subianto untuk menciptakan 19 juta lapangan kerja hingga hari ini masih jauh dari kenyataan dan terus dipertanyakan publik, sementara di lapangan masyarakat justru dihadapkan pada sulitnya mencari pekerjaan yang aman, tetap, dan bermartabat.

Bagi perempuan, persoalan ini berlapis bukan hanya sulit mendapat pekerjaan, tetapi juga harus menghadapi sistem kerja yang seksis, eksploitatif, dan tidak inklusif. Perempuan Mahardhika menilai bahwa proses rekrutmen tenaga kerja di Indonesia masih sarat diskriminasi. Perempuan masih kerap disaring berdasarkan usia, status perkawinan, penampilan fisik, bahkan dipertanyakan soal rencana memiliki anak. Penyandang disabilitas, perempuan kepala keluarga, perempuan korban kekerasan, hingga kelompok minoritas gender semakin tersingkir dari akses kerja formal.

Dunia kerja masih menganggap perempuan sebagai tenaga kerja kelas dua mudah digaji murah, mudah dikontrol, dan mudah disingkirkan.

Di sisi lain, menguatnya militerisme dalam tata kelola negara semakin mengancam demokrasi dan ruang aman bagi rakyat sipil. Ketika pendekatan keamanan ditempatkan di atas penyelesaian kesejahteraan, kritik rakyat dibungkam, kebebasan berserikat dipersempit, dan suara buruh perempuan kerap dianggap ancaman.

Militerisme bukan hanya hadir dalam institusi bersenjata, tetapi juga menjelma menjadi budaya represif di ruang kerja: anti kritik, anti serikat, dan penuh intimidasi terhadap pekerja yang menuntut haknya. Situasi ini mempersempit perjuangan perempuan untuk mendapatkan keadilan ekonomi dan sosial.

Lebih jauh, kekerasan di dunia kerja masih menjadi kenyataan pahit yang dialami jutaan perempuan. Pelecehan seksual, kekerasan verbal, ancaman pemecatan saat hamil, pemotongan upah sepihak, beban kerja berlebih, hingga kriminalisasi terhadap buruh yang bersuara masih terus terjadi.

Banyak perempuan memilih diam karena takut kehilangan pekerjaan, takut distigma, dan tidak percaya pada mekanisme pengaduan yang seringkali tidak berpihak pada korban. Dunia kerja hari ini belum menjadi ruang aman, melainkan ruang yang menormalisasi ketimpangan kuasa atas tubuh dan tenaga perempuan. Atas kondisi tersebut, Kordinator Perempuan Mahardhika Samarinda Disya Halid, menyampaikan menyatakan sikap :

  • Menuntut pemerintah segera mewujudkan kerja layak untuk perempuan

Negara wajib memastikan tersedianya lapangan kerja yang aman, ber upah layak, bebas diskriminasi, memiliki jaminan sosial, cuti haid dan melahirkan, perlindungan maternitas, serta kepastian status kerja bagi seluruh perempuan pekerja.

  • Mendesak pemerintah bertanggung jawab atas janji politik penciptaan 19 juta lapangan kerja
  • Menolak sistem rekrutmen yang seksis dan tidak inklusif
  • Menolak militerisme dan segala bentuk represi terhadap demokrasi
  • Mendesak penghapusan segala bentuk kekerasan di dunia kerja
  • Menyerukan persatuan perempuan pekerja untuk melawan ketidakadilan

Kami percaya perubahan tidak datang dari belas kasihan negara maupun perusahaan, tetapi dari perjuangan perempuan pekerja yang terorganisir, bersuara, dan berani melawan sistem yang menindas.

Perempuan bukan tenaga kerja murah

Perempuan bukan objek eksploitasi

Perempuan berhak atas kerja yang aman, setara, dan bermartabat

Hidup perempuan pekerja!

Lawan kekerasan dan diskriminasi!

Wujudkan kerja layak untuk semua!

Sumber : Press Rilis Perempuan Mahardika


Berita Terkait

Klarifikasi Pemprov Kaltim Terkait Kursi Pijat

Perumdam Tirta Kencana Samarinda Lakukan Perbaikan Plat Settler 1 IPA Cendana 4

Share197Tweet123
Previous Post

Perumdam Tirta Kencana Samarinda Lakukan Perbaikan Plat Settler 1 IPA Cendana 4

Next Post

Klarifikasi Pemprov Kaltim Terkait Kursi Pijat

Next Post
Klarifikasi Pemprov Kaltim Terkait Kursi Pijat

Klarifikasi Pemprov Kaltim Terkait Kursi Pijat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1269978
Users Today : 1135
Users Yesterday : 997
Total Users : 1269978
Total views : 6291151
Who's Online : 8

© 2019-2024 Lensaborneo,com All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Blog
  • Redaksi
  • INFO PRODUK
  • Pedoman Media
  • Legalitas
  • Berita Daerah
  • Nasional
  • Popular

© 2019-2024 Lensaborneo,com All Rights Reserved